PALEMBANG – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu soal keuntungan semata.
Lewat program Bamboo for Life, perusahaan tambang pelat merah ini sukses menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan sejak 2018.
Salah satu hasil nyatanya? Produksi tusuk sate lokal yang kini tak kalah dengan produk impor!
Program ini di mulai dari keresahan sederhana: Indonesia, negeri dengan kekayaan alam melimpah, justru masih mengimpor tusuk sate.
Dari situ, PTBA bersama Paguyuban Krajan di Desa Sidomulyo, Lampung, menggagas solusi hilirisasi bambu.
Berdayakan Kelompok Rentan, Hasilkan 5 Ton per Hari
Kini, ada 23 kelompok yang aktif memproduksi tusuk sate dengan anggota mencapai 129 orang—mayoritas berasal dari kelompok rentan seperti lansia, janda, difabel, hingga rumah tangga miskin.
Pendapatan? Bisa sampai Rp1,2 juta per bulan meskipun hanya dikerjakan paruh waktu di rumah.
“Kalau satu lansia bisa hasilkan 5 kg per hari, bayangkan kalau semua produksi. Kita bisa penuhi 5 ton per hari, cukup untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Ketua Paguyuban Krajan, Samadi.
Dari Tusuk Sate ke TPQ
Bukan hanya berdampak ekonomi, usaha ini juga menumbuhkan semangat berbagi.
Setiap bulan, sebagian laba sekitar Rp6 hingga Rp8 juta dialokasikan untuk operasional TPQ Mutiara Ummat Insani, yang saat ini mengasuh 37 santri.
Samadi pun menyebut PTBA sebagai “orang tua” bagi kelompoknya karena dukungan yang tak henti-henti, termasuk dalam pendirian workshop mandiri dan pasar sentral.
Dari Lahan Gersang Menjadi Hijau dan Produktif
Program Bamboo for Life sendiri sudah dimulai sejak 2014, awalnya sebagai upaya restorasi lahan gersang dengan menanam bambu.
Hasilnya, lebih dari 13.000 pohon bambu kini tumbuh di lahan seluas 49 hektare.
Secara ekologis, program ini membantu menyerap emisi karbon hingga 3.509 ton CO2e per tahun.
Tak berhenti di tusuk sate, hilirisasi bambu juga menghasilkan berbagai produk turunan: mulai dari cuka bambu, pupuk organik cair, hand sanitizer, disinfektan, hingga obat herbal.
Hilangkan Impor, Hidupkan Negeri
Hamdani, Head of Human Resources, General Services, Finance & CSR PTBA Pelabuhan Tarahan, menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
“Kita ingin tusuk sate ini bisa 100% diproduksi di dalam negeri.
Ini bukti kalau kolaborasi bisa hentikan ketergantungan impor,” tegasnya.
Dengan pendekatan berkelanjutan yang menyatukan ekonomi, sosial, dan lingkungan, PTBA membuktikan
bahwa tanggung jawab perusahaan bisa jadi kekuatan besar untuk perubahan.

















