PALEMBANG – Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini, menegaskan komitmen perusahaan dalam
mempercepat inklusi digital berbasis gender di ajang global Commission on the Status of Women ke-69 (CSW69) yang berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York.
Dalam forum bergengsi ini, XL Axiata menampilkan peran strategis Indonesia dalam mendorong ekonomi digital inklusif di tingkat regional dan global.
CSW69, yang diselenggarakan oleh United Nations Women dan Economic and Social Council (ECOSOC), berfokus
pada percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) nomor 5 tentang kesetaraan gender.
Dian Siswarini hadir sebagai pembicara utama dalam panel bertajuk “Shaping an Inclusive Digital Economy:
Indonesia & India’s Leadership and ASEAN’s Collaborative Vision”.
Ia menyoroti bagaimana XL Axiata melalui program Sisternet telah berhasil mengedukasi dan memberdayakan
lebih dari satu juta perempuan di Indonesia dalam literasi digital dan kewirausahaan.
Dalam sesi diskusi, Dian Siswarini menekankan bahwa kesenjangan gender dalam akses teknologi masih menjadi tantangan besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa 78,19% laki-laki di Indonesia mengakses internet dibandingkan 74,36% perempuan.
Selain itu, hanya 34% perempuan pelaku UMKM yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis mereka, jauh lebih rendah dibandingkan 54% laki-laki.
“Perempuan menghadapi berbagai tantangan dalam memanfaatkan teknologi, mulai dari akses yang terbatas hingga ancaman cyber harassment.
XL Axiata berkomitmen menciptakan ruang digital yang lebih aman dan inklusif melalui berbagai program edukasi dan pemberdayaan,” ujar Dian.
Sebagai langkah nyata, XL Axiata mengembangkan program Sisternet sejak 2015 untuk membekali perempuan dengan keterampilan digital, keamanan siber, dan literasi keuangan.
Hingga awal 2025, program ini telah memberikan pelatihan kepada lebih dari satu juta perempuan, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Dampak positifnya terlihat dari meningkatnya partisipasi perempuan dalam bisnis digital serta pemahaman mereka tentang keamanan digital.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Arifah Fauzi, yang turut hadir dalam
forum tersebut, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mempercepat inklusi digital berbasis gender.
“Pemerintah Indonesia terus berupaya memastikan perempuan memiliki akses yang sama dalam ekonomi digital.
Melalui program Ruang Bersama Indonesia, kami ingin memastikan perempuan wirausaha tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi,” ungkap Arifah.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital dan keamanan siber bagi perempuan untuk
mengurangi risiko kekerasan berbasis gender online (KBGO), yang menurut data Komnas Perempuan 2023, mencapai 80% dari total kasus kekerasan digital.
Sebagai tindak lanjut dari partisipasi di CSW69, XL Axiata bersama mitra strategis seperti KemenPPPA, Microsave,
dan Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) New York akan mengembangkan beberapa strategi utama, antara lain:
Menjadikan Sisternet sebagai layanan nilai tambah bagi pelanggan XL Axiata.
Memperluas kolaborasi dengan komunitas lokal dan internasional untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah terpencil.
Menyediakan materi edukasi digital yang lebih spesifik, termasuk kewirausahaan digital, keamanan siber, fintech, dan e-commerce.
Partisipasi XL Axiata dalam CSW69 menunjukkan peran aktif perusahaan dalam mendukung transformasi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan berbagai inisiatif yang telah berjalan, XL Axiata semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam
pemberdayaan perempuan di era digital, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

















