PALEMBANG – Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaannya,
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengajak Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Rajut untuk melakukan studi banding ke Syam’s Handicraft Gallery di Pati, Jawa Tengah.
Syam’s Handicraft Gallery di kenal sebagai usaha kerajinan anyaman terkemuka yang telah sukses menembus pasar nasional hingga internasional.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan pengalaman baru bagi para anggota SIBA Rajut dalam dunia anyaman.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan di ajak melihat langsung bagaimana sebuah kerajinan sederhana dapat
berkembang menjadi produk bernilai tinggi dan mampu memberdayakan ratusan perempuan di daerah setempat.
Rombongan SIBA Rajut mengunjungi beragam koleksi anyaman khas Syam’s Handicraft Gallery dan menyaksikan
secara langsung proses produksi yang di lakukan oleh sekitar 400 ibu penganyam.
Selain itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan pengelola dan perajin mengenai teknik,
inovasi, dan strategi pemasaran produk anyaman agar dapat bersaing di pasar global.
Tak hanya itu, perjalanan studi banding ini juga mencakup kunjungan ke workshop dan pameran UMKM di Kota Semarang.
Di sini, peserta memperoleh wawasan tambahan mengenai strategi pengembangan usaha dan perluasan jaringan pemasaran.
Syam’s Handicraft Gallery berbagi pengalaman bagaimana mereka berhasil membangun jaringan bisnis yang
kuat, menciptakan produk berkualitas tinggi, serta memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran.
Ketua SIBA Rajut, Villy Villya, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kesempatan berharga ini.
“Kunjungan ke Syam’s Handicraft Gallery memberikan banyak pelajaran bagi kami.
Kami melihat bagaimana semangat, ketekunan, dan inovasi mampu membawa industri kerajinan ke tingkat yang lebih tinggi.
Syam’s Handicraft Gallery tidak hanya sukses menciptakan produk berkualitas, tetapi juga menjadi inspirasi dalam pemberdayaan perempuan dan pelestarian budaya.
Kami sangat terinspirasi dan bertekad untuk menerapkan ilmu yang kami peroleh guna membawa SIBA Rajut semakin maju,” ujar Villy.
SIBA Rajut sendiri merupakan UMK binaan PTBA yang beranggotakan 15 ibu rumah tangga dari desa-desa di sekitar wilayah operasi PTBA.
Awalnya, mereka hanya memproduksi tas belanja berbahan rajut, namun kini telah berkembang dengan
menghasilkan berbagai produk, termasuk benang ombre yang menjadi andalan mereka.
Benang ombre merupakan benang yang di rajut dari delapan helai dengan perpaduan warna yang unik dan menarik.
Produk lain yang mereka hasilkan meliputi dompet kecil, tas, sajadah, tempat tisu, peci, serta taplak meja.
Melalui program binaan PTBA, hasil karya SIBA Rajut kini di pasarkan secara langsung maupun melalui platform online seperti marketplace PaDi UMKM.
PTBA juga secara aktif mengikutsertakan SIBA Rajut dalam berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun
nasional, guna memperluas jangkauan pemasaran produk mereka.
Dengan semangat “Energi Tanpa Henti”, PTBA terus berupaya memberdayakan masyarakat melalui
pengembangan UMK, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat struktur perekonomian.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita yang diusung pemerintah, khususnya poin ke-3 yang berfokus pada peningkatan lapangan kerja berkualitas dan kewirausahaan.
Melalui program studi banding ini, di harapkan SIBA Rajut dapat terus berkembang, berinovasi, dan menjangkau
pasar yang lebih luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga ke pasar internasional.

















