PALEMBANG – Meski di hantam tantangan ekonomi dan persaingan industri yang makin ketat, XL Axiata berhasil membukukan kinerja positif di kuartal pertama (Q1) 2025.
Pendapatan perusahaan tumbuh 2% di banding tahun sebelumnya menjadi Rp 8,6 triliun, dengan laba bersih setelah pajak (PAT) Rp 388 miliar.
Presiden Direktur & CEO XLSMART, Rajeev Sethi, mengungkapkan rasa syukur atas capaian ini.
“Kami menghadapi banyak tantangan: kompetisi makin tajam, daya beli masyarakat melemah, hingga penurunan mobilitas jelang Lebaran.
Namun, kami tetap berhasil tumbuh positif dan merampungkan merger dengan Smartfren sesuai rencana,” ujar Rajeev.
Pelanggan XL Axiata juga terus bertambah. Hingga akhir Maret 2025, total pelanggan mencapai 58,8 juta, naik
1,2 juta dibanding tahun lalu. Layanan fixed broadband (FBB) pun stabil dengan lebih dari 1 juta pelanggan.
Rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) tetap terjaga di kisaran Rp 40 ribu — sebuah indikator penting bagi
perusahaan untuk menjaga basis pelanggan produktif.
Di ranah digital, aplikasi MyXL dan AXISNet menjadi bintang. Tercatat 35,7 juta pengguna aktif dengan kenaikan Monthly Active User (MAU) 18% YoY.
“Semakin banyak pelanggan aktif di aplikasi kami, semakin akurat pemahaman kami terhadap kebutuhan mereka,
sehingga kami bisa menawarkan layanan yang lebih personal,” jelas Rajeev.
Bahkan, kontribusi pendapatan dari kedua aplikasi ini naik 21% berkat fitur-fitur baru seperti XL Circle.
Strategi digitalisasi XL Axiata tak hanya meningkatkan pengalaman pelanggan, tapi juga efisiensi biaya.
Beban biaya penjualan dan pemasaran berhasil ditekan, sementara investasi jaringan tetap menjadi fokus utama.
Capex sebesar Rp 1,24 triliun dialokasikan untuk memperluas dan memperkuat jaringan.
Hasilnya? Trafik layanan naik 9% YoY menjadi 2.848 petabytes. BTS 4G juga tumbuh 7%, dengan total BTS
mencapai 164 ribu unit dan 63% di antaranya sudah terkoneksi fiber optik.
Secara finansial, XL Axiata dalam posisi sehat. Utang bersih tercatat Rp 11,6 triliun dengan rasio net debt to
EBITDA 2,51x. Free Cash Flow melonjak 28% menjadi Rp 3,08 triliun.
“Kami tidak punya utang berdenominasi USD, ini penting untuk menjaga ketahanan menghadapi fluktuasi mata uang,” tambah Rajeev.
Yang tak kalah menarik, sejak 16 April 2025, XL Axiata resmi melebur dengan Smartfren menjadi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART).
Entitas baru ini kini memiliki basis pelanggan gabungan lebih dari 94,5 juta dan proyeksi pendapatan Rp 45,8
triliun, serta berambisi menjadi perusahaan telekomunikasi paling dicintai di Indonesia pada 2027.
“Kami hadir untuk menghubungkan setiap orang Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik,” tutup Rajeev dengan optimistis.
Dengan langkah-langkah strategis ini, XL Axiata tak hanya mampu melewati tantangan, tapi juga siap berlari
lebih kencang di era transformasi digital Indonesia.

















