PALEMBANG– Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bisnis Global pertama yang mengangkat tema “Investasi Infrastruktur Belt and Road untuk Bisnis yang Lebih Baik, Dunia yang Lebih Baik, dan Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs)” resmi di gelar di Jakarta.
Ajang internasional ini bertujuan memperkuat kolaborasi investasi lintas negara melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan.
Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia, UN Global Compact (melalui platform aksi BRI
for SDG), THK Forum, Yayasan United in Diversity (UID), KADIN Indonesia, Jaringan UN Global Compact Indonesia (IGCN), International Chamber of Commerce (ICC), dan Sustainable Development Solutions Network (SDSN).
Seruan Dunia untuk Infrastruktur Hijau dan Inklusif
Dalam pidato pembukaan, Wakil Sekretaris Jenderal PBB Li Junhua menekankan urgensi membangun infrastruktur “rendah karbon, tangguh, dan dapat diakses oleh semua”.
Sanda Ojiambo, Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Eksekutif UN Global Compact, menyoroti empat langkah kunci yang perlu diadopsi dunia usaha:
- Target dekarbonisasi berbasis sains
- Ekonomi sirkular
- Pelibatan komunitas lokal
- Pemanfaatan blended finance
Zhao Dong, Chairman Xiamen Airlines, menggarisbawahi pentingnya konektivitas udara dalam memajukan Air Silk Road sebagai bagian dari jaringan BRI.
Hasil Nyata dan Inisiatif Konkret
KTT ini menghasilkan sejumlah capaian substansial, antara lain:
Peluncuran laporan “Transition Finance for Sustainable Development of Traditional Industries”
Sembilan inisiatif lintas sektor yang mencakup transisi energi hijau, pemberdayaan UMKM, kerja sama kesehatan global, hingga penguatan infrastruktur digital.
Selain itu, Pernyataan Bersama Komite Pengarah Tingkat Tinggi UNGC BRI for SDG Action Platform mempertegas
komitmen menjadikan BRI sebagai barang publik global yang mendukung pembangunan infrastruktur inklusif
dan berkelanjutan, dengan prinsip tanggung jawab dan kemitraan multipihak.
Diskusi Mendalam dan Kolaborasi Nyata
Empat meja bundar menghadirkan para ahli membahas tema strategis:
- Rantai pasok berkelanjutan untuk mineral hijau
- Inovasi dalam layanan kesehatan
- Kepatuhan ESG dan integritas bisnis
- Pengembangan kawasan industri hijau
Momentum KTT juga di manfaatkan untuk merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Tiongkok–Indonesia, dengan peluncuran Sino–Indonesia Corporate Communities Action Network.
Inisiatif ini di gagas oleh kantor Koordinator Residen PBB di Indonesia dan Tiongkok bersama perusahaan
anggota UN Global Compact, bertujuan memperkuat komunitas bisnis berkelanjutan untuk mendukung pencapaian SDGs.
Paradigma Baru Kerja Sama Infrastruktur Global
KTT ini mengukuhkan tekad untuk menjadikan forum ini sebagai acara tahunan, dengan harapan menjaga
kesinambungan proyek BRI yang sejalan dengan SDGs dan standar internasional.
Acara di tutup dengan seruan aksi bersama, mempertegas tanggung jawab kolektif dalam membangun masa
depan yang tangguh terhadap perubahan iklim, inklusif secara sosial, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang.
KTT perdana ini telah membuka babak baru dalam kolaborasi publik-swasta, menghadirkan paradigma baru
dalam pembangunan infrastruktur global yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

















